Sunday, 24 December 2017

Pengantar Arsitektur (Unsur-unsur perancangan)

tugas 1
PENGANTAR ARSITEKTUR
Unsur-Unsur Perancangan

1.        Unsur Titik
Pengertian Titik adalah : Awal dan akhir dari sebuah garis; Menunjukkan posisi dalam sebuah ruang; Merupakan pusat perhatian; Titik tidak memiliki panjang, lebar, luas, atau pealaman.
2.      Unsur Garis
Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia , garis adalah coretan panjang lurus, lengkung atau bengkok.
 Garis merupakan elemen penting dalam seluruh formasi konstruksi visual. Sebuah garis memiliki panjang dan arah, amun tiak memiliki lebar dan kedalaman.  Berbeda dengan titik yang hanya bersifat statis, garis menggambarkan jalur pergerakan sebuah titik dan mampu menunjukkan arah, pergerakan dan pertumbuhan secara visual.
       Garis dapat digunakan untuk menggabungkan, menghubungkan , menopang , mengelilingi ataupun memotong dalam elemen visual lainnya. Garis juga digunakan untuk menjelaskan batas-batas serta memberikan bentuk kepada bidang dan menegaskan permukaan bidang.
Dari bentuknya,sebuah garis merupakan perpanjangan dari titik. Untuk memperlihatkan sebuah titik dalam ruang, titik tersebut harus diproyeksikan secara linier menggunakan garis. Dua buah titik meIukiskan seuah garis yang menghubungkannya. Meskipun titik-titik tersebut memberikan panjang tertentu pada garis, garis itu juga dapat dianggap sebagai segmen dan garis yang panjangnya tidak terbatas.
Sebuah titik yang diperpanjang akan mejadi sebuah garis. Secara konseptual, garis memiliki panjang, tapi tanpa lebar maupun kedalaman. Jika sebuah titik secara alamiah adalah statis, maka sebuah garis, dalam menggambarkan jalur pergerakan sebuah titik, mampu mengekspresikan arah, pergerakan dan pertumbuhan secara visual.
Unsur-unsur garis dalam elemen linear vertikal yaitu :
a.       Kolom
b.      Tugu
c.        Menara
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgndTLBifZFERuiSV12p-9E2K7BRQj_tYCffHG8DCYMTI9DrusddSLxfUIrr1Wpz-LvvTSUtsMrygDLDC15IW_COapFOVOvBIbfTYRlSCIxeHJMjgByCvX75x-kKzwXsxwVQB3LMeulpDQ/s1600/parthenon_resize.jpg
Gambar 01. contoh banguan memiliki unsur garis
Contoh bangunan yang memiliki unsur garis terlihat pada pilar atau kolom-kolom bangunan tersebut yang memberi kesan kokoh.
http://images3.arq.com.mx/noticias/articulos/17974-05.jpg
Gambar 02. contoh banguan memiliki unsur garis
Contoh bangunan yang memiliki unsur garis terlihat fasade bangunan yang memberi kesan estetis.

3.      Unsur Bidang
Sebuah garis jika diperpanjang ke arah selain arah hakikatnya, maka ia akan menjadi sebuah bidang. Secara konseptual, sebuah bidang memiliki panjang dan lebar, tapi tidak memiliki kedalaman. 
Jadi, bidang adalah perpanjangan dari garis ke arah yang bukan hakikinya sengingga menciptakan lebar.  Secara konseptual sebuah bidang  yang ditentukan oleh kontur garis yang membentuk batas-batas sebuah bidang.
Didalam komposisi sebuah konstruksi visual, sebuah bidang berfungsi untuk mendefinisikan batas-batas sebuah ruang. Jika arsitektur sebagai suatu seni visual berurusan secara spesifik dengan formasi volume tiga dimensional massa dan ruang, maka bidang dapat dianggap sebagai sebuah elemen kunci didalam perbendaharaan arsitektural.
Didalam desain arsitektur , terdapat 3 jenis bidang:
a.  Bidang atas kepala
        Bidang yang membentang dan melindungi ruang- ruang interior sebuah
bangunan dari elemen- elemen iklim atau bidang yang membentuk permukaan pada ruangan diatasnya.
b. Bidang dinding
            Merupakan orientasi yang vertikal, sifat aktif didalam lingkup pandang kita yang
normal, serta memegang peranan yang penting dalam pembentukan dan penutupan sebuah bidang arsitektural
c. Bidang dasar
        Sebuah bidang lantai dasar yang berfungsi sebagai pondasi fisik dan dasar visual bentuk bangunan, ataupun bidang atap yang membentuk permukaan penutup sebuah ruangan dibawah tempat kita berjalan
http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTnYclewHdH3ccx_228mkyivLaHz0ilZCuNi_Tp6kkzpg-Ebcgf
Gambar 03. contoh banguan memiliki unsur bidang
Contoh bangunan yang memiliki unsur bidang terlihat pada dinding bangunan tersebut, plat lantai dan balok yang melindungi beban bidang lantai dua dan masih banyak unsur bidang jika kita kaji lebih mendalam pada bangunan ini.




Sunday, 10 November 2013

Metode perancangan kota


URBAN DESIGN ARCHITECTURE

METODA PERANCANGAN KOTA








PRODI ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH








SYNOPTIC METHOD / METODE RASIONAL DALAM PERENCANAAN KAWASAN



I. Definisi
ž Metode sinoptik sering disebut sebagai metode rasional. Namun tidak berarti metoda yang lain bisa dikatakan tidak rasional. Sistematika desain dalam metode ini terdiri dari beberapa langkah, dengan jumlah langkah tergantung dari kerumitan kasus yang dihadapi (shirvani, 1985).
ž Metode ini mengutamakan langkah-langkah yang terstruktur dalam pemecahan masalah, dengan mengedepankan perpaduan beberapa alternatif sehingga tercapai kesimpulan dari aspek terbaik dari masing-masing alternatif yang diajukan. Langkah yang diambil harus runut dan terperinci dengan jelas, untuk mendapatkan solusi yang terbaik. Solusi terbaik dilihat dari kualitas atau nilai dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menghasilkan efek lebih baik.

II. Langkah-Langkah Dalam Metode Rasional
ž II.I.   Langkah Pertama : Pengumpulan Data, Survei Kondisi Yang Ada (kondisi alam, terbangun, dan sosio-ekonomi).
ž Pengumpulan data bisa diartikan memberikan penilaian terhadap suatu lingkungan dan komponen lain seperti kondisi alami, terbangun (buatan), maupun sosial ekonomi. Data yang terkumpul berbentuk statistik secara kuantitatif dengan cara pengelompokan menurut subjek, area, waktu maupun kombinasi diantaranya.

II.II.    Analisis Data, Identifikasi Semua Peluang dan Kendala
ž Analisis data, merupakan langkah paling awal dalam menerjemahkan informasi ke dalam alternatif desain. Analisis data ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, dengan masing-masing cara bisa memadukan beberapa variasi dari kualitas dan hubungan masing-masing informasi (Roberts, 1974). 

ž II.III.    Perumusan Tujuan dan Sasaran
ž Secara umum, perumusan tujuan dan sasaran sudah mendekati akhir dari  proses perencanaan. Secara teori, ini merupakan ujian pertama dari perencana atau bisa dikatakan sebagai pemacu dalam mendesain, dimana harus ada pemisahan antara fakta dan nilai-nilai. (Shirvani, 1981).

ž II.IV.    Pengembangan Konsep-konsep Alternatif
ž Perkembangan dari alternatif konsep dapat dilakukan dalam dua tahap:
1.  Identifikasi kunci pokok dari pengembangan ide
2.     Pendefinisian lebih banyak detail dari beberapa alternatif sebagai pendahuluan untuk menuju pada perpaduan (Boyce et al., 1970)

            Tahap keempat ini adalah dimana perencana harus menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk melihat kemiripan kasus yang terjadi. Beberapa variasi alternatif tidak hanya berupa perbedaan tujuan dan sasaran, namun juga dapat dilihat sebagai perbedaan cara untuk mengembangkan alternatif utama. Alternatif, sebagai contoh, dapat digunakan untuk mengkonfirmasi rekomendasi, atau untuk memverifikasi keuntungan yang diharapkan dalam sebuah bentuk perkembangan, atau untuk memberikan pengetahuan kepada khalayak umum mengenai nilai dari perencanaan yang dilakukan (Boyce et al., 1970).

ž II.V.      Penjabaran Tiap Konsep Ke Solusi Yang Dapat Dilaksanakan
ž Penjabaran digunakan untuk melihat dan mengembangkan beberapa alternatif yang telah diajukan, dan menganalisa konsep, tujuan utama, dan sasaran dari keduanya. Point penting dalam penjabaran adalah untuk melihat kembali, menganalisa, dan mengkritisi alternatif yang tersedia dan mengelompokkan alternatif-alternatif tersebut dalam bingkai lingkup desain yang diinginkan. Menindaklanjuti identifikasi dan seleksi konsep yang telah dikembangkan, tahap ini biasanya mnghasilkan bagian penting dalam proses perencanaan.

ž II.VI.     Evaluasi Solusi-solusi Alternatif
     ž Evaluasi dari alternatif solusi merupakan langkah yang penting, terlihat 
selama dekade sebelumnya karena berkurangnya subjektivitas dari para
perencana dalam meningkatkan solusi yang objektif.

          Terdapat beberapa metode evaluasi yang menarik dalam skala makro, baik perencanaan kawasan dan perencanaan regional, juga secara mikro dari desain distrik, perencanaan lingkungan, dan pedoman desain kawasan. Metode-metode ini mulai dari sistem keuntungan / analisis keuangan sampai dengan matrik pengembangan tujuan utama, dari metode evaluasi rencana metropolitan dan analisis daya dukung lahan sampai dengan evaluasi dalam proses perencanaan. Kemudian terdapat juga beberapa macam metode mengenai akses sinar matahari, kontrol suara, dan sebagainya, yang sangat berguna untuk mengembangkan pedoman desain dan standarnya.

ž II.VII.   Penerjemahan solusi-solusi ke produk berupa: Kebijakan (policies), Rencana(plan), Pedoman (guidelines), dan Program.
ž Tahap ini adalah tahap pengembangan dari presentasi detail dan penjelasan dari alternatif terpilih serta rumusan-rumusan kebijakan, perencanaan, dan hasil perencanaan lainnya. Disini, pemilihan dari masing-masing produk perencanaan seperti kebijakan, rencana, pedoman, atau program-program tergantung dari situasi atau tipe aktivitas perencanaan kawasan. Dengan pengembangan secara detail dari kebijakan, rencana, dan sebagainya, tergantung dari alternatif yang terpilih, implikasi dari solusi terpilih dapat dieksplorasi. Ini membutuhkan tinjauan ulang ke belakang dan evaluasi ulang dari proses yang telah dilakukan sebelumnya.


MENGENANG 13 TAHUN TSUNAMI ACEH